Allah, Alam Semesta, Manusia, dan Kenabian

Fethullah Gülen: Allah, Alam Semesta, Manusia, dan Kenabian

Membaca keber-ada-an dan peristiwa secara menyeluruh, dengan penafsiran yang tepat, dan menjaga keseimbangan antara manusia, alam semesta, dan hakikat ketuhanan merupakan sisi-sisi terdalam kenabian dan keistimewaannya. Pengetahuan mendalam tentang keber-ada-an, pemahaman yang paripurna terhadap refleksi segala sesuatu yang saling menggambarkan satu sama lain, dan kesatuan peraturan yang bersifat universal dan mencakup semua ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sangat mudah bagi para nabi terutama pemimpin agung mereka, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Ketika umat manusia pada masa kini, di zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masih mengeja huruf demi huruf hakikat diri mereka sendiri, alam semesta, dan alam lain, jauh sebelum mereka berabad-abad yang lalu, para Nabi telah menemukannya. Mereka menjelaskan kepada umatnya secara paripurna bagaimana cara mengembalikan semuanya kepada pemilik yang sebenarnya. Sebagian hanya disebutkan secara global dan sebagian lain dijelaskan secara terperinci. Hal ini dikarenakan mukjizat dan kedudukan mereka yang spesial di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta informasi-informasi yang datang dari alam metafisika secara kontinue.

Untuk mencapai hakikat-hakikat ini, para nabi tidak memakai metodelogi penelitian ilmiah di masa sekarang, tidak pula dengan metodologi eksperimen. Akan tetapi, mereka mencapai pengetahuan tersebut dengan keluasan hati dan hubungan khusus mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di samping akal, panca indra, dan intuisi mereka yang sempurna, yang tidak bisa dilampaui oleh batas persepsi manusia biasa. Mereka mengira bahwa semua keber-ada-an berada dalam poros takdir yang memaksa, dan mereka menyerukan kesatuan hubungan antara ilmu dan keinginan yang mendominasi di setiap tempat dan objek. Mereka membaca lalu menafsirkan fenomena-fenomena di setiap benda dan peristiwa yang menunjukkan ketauhidan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian mereka menginformasikan kedudukannya sebagai penyeru menuju ketauhidan hati, pikiran, dan akidah.

Hal tersulit adalah klaim yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan telah membawa sebuah permasalahan tentang hubungan antara manusia, alam semesta, dan ketuhanan yang hingga saat ini selalu diperbincangkan; hakikat persoalan ini telah diberitakan oleh para nabi beberapa ratus abad yang lalu. Ilmu pengetahuan tersebut itu akan tetap menunjukkan keber-ada-annya di manapun. Ia akan mengklarifikasi kebenaran hari ini pada esok hari, berusaha mengklarifikasi kesalahan fatal menjadi kesalahan biasa, dan mempertahankan aksioma relatif dengan berbagai macam hipotesis namun tidak mampu melewati batas analisis parsial. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan bahwa ilmu tersebut hingga kini masih belum benar-benar memberikan jawaban pasti pada objek-objek yang telah kita perbincangkan ini namun kita tidak perlu mengeliminasinya.

Ilmu pengetahuan sama sekali belum bisa menjelaskan secara gamblang tentang hakikat yang mutlak dan hanya bisa menjadi bekal bagi para pengelana serta modal yang baik bagi para peneliti.

Perlu saya tekankan di sini bahwa saya tidak bermaksud merendahkan ilmu pengetahuan dan berbagai macam produk yang dihasilkannya, atau mengurangi urgensi penelitian ilmiah, bahkan saya meyakini ilmu pengetahuan dan produk-produk yang dihasilkannya adalah gudang nilai yang sangat penting dan layak mendapatkan apresiasi yang tinggi. Namun, saya hanya ingin mengingatkan agar kita tetap terfokus kepada sumber ilmu pengetahuan yang tidak mendapatkan perhatian serius pada masa kini padahal sumber ilmu pengetahuan ini merupakan sumber yang paling otentik dan mampu menjelaskan hakikat manusia, keber-ada-an, dan makhluk secara komprehensif serta sejauh mungkin menghindari kesalahan dalam proses analisisnya. Sumber ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah nubuah yang selalu terjaga keasliannya kecuali pada beberapa kitab suci yang telah sering mengalami amandemen. Tentunya, kita memberikan aspresiasi yang tinggi pula bagi ilmu pengetahuan modern sekarang ini yang telah mampu mendeteksi sistem dan gerakan-gerakan yang ada di dalam wujud (being) dan realitas. Namun, semuanya itu telah ditemukan dan dijelaskan jauh-jauh hari pada masa lampau dengan teknologi yang lebih canggih. Jika seandainya sumber ilmu pengetahuan ini sama sekali tidak digubris, maka kita akan menyerukannya dengan suara lantang dan meneriakkan kebenaran yang kita yakini dengan tetap menjaga adab sopan santun.

Banyak sekali penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern yang ternyata telah diketahui dan disampaikan para nabi kepada umatnya sejak dulu dengan cara yang bervariasi meskipun masih bersifat global berdasarkan wahyu dan kecerdasan mereka yang luar biasa. Ketika eksperimen dengan menggunakan teknologi canggih untuk meneliti hakikat yang telah diberitakan oleh para nabi sebelumnya banyak dilakukan, jutaan orang masih menjadikan penilaian mereka masing-masing sebagai tolak ukur interpretasi. Sehingga pada akhirnya, setiap hipotesis yang mengatasnamakan ilmu pengetahuan dan filsafat dilontarkan, berkali-kali mengalami perubahan seiring ditemukannya teori-teori baru. Artinya, para pakar ilmu pengetahuan masa kini berdebat dengan rekan-rekan lamanya tentang suatu permasalahan. Karena perdebatan yang mengandung unsur saling membantah pendapat satu sama lain, teori yang sudah kuat dan tepat tergeser dan tersisihkan oleh pendapat-pendapat mereka. Posisi teori tergantikan oleh hasil perdebatan mereka yang berubah-ubah sehingga akhirnya aksioma atas nama ilmu pengetahuan yang benar menjadi redup dan terhempas oleh aksioma-aksioma lain yang saling menggantikan satu sama lain seiring waktu berjalan. Sedangkan hakikat-hakikat yang disampaikan oleh para nabi tetap terjaga keasliannya dan berada dalam kebenaran yang permanen terkecuali penafsiran-penafsiran menyimpang mereka yang sempit pikirannya, mengingat posisinya sebagai dasar utama yang menjadi referensi primer selamanya. Ini dikarenakan hakikat-hakikat tersebut didasarkan pada wahyu yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dzat Yang Mengatur alam semesta.

Oleh karena itu, pemahaman tentang hakikat manusia, wujud, dan pencipta jangan sampai meninggalkan arahan para nabi yang memiliki kemampuan dan ikatan khusus dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana halnya orang-orang selain mereka dilarang mendahului para nabi dalam mengemukakan masalah esensi dan substansi alam di balik wujud (being).

Secara spontan, tugas utama para nabi adalah menentukan dan menjelaskan secara pasti hubungan antara alam semesta dan realitas di antara manusia dan kehidupannya. Di samping itu, tugas mereka adalah menegaskan eksistensi Dzat Pemilik kekuatan dan pengatur keserasian ini, dan menjelaskan tanggung jawab seorang hamba terhadap tuhannya. Karena hanya merekalah yang mampu menjawab berbagai pertanyaan seputar wujud dan manusia khususnya, dari mana manusia berasal, ke mana ruh pergi, dan mengapa dia berlalu-lalang?.

Oleh karena itu, tidak ada tempat berlindung bagi kita kecuali menjawab seruan para rasul saja, bukan yang lain, agar dapat diketahui informasi yang paling benar tentang hikmah dan tujuan hidup di dunia sebenarnya serta aturan-aturan yang mesti dipatuhi dalam menjalani kehidupan. Jika kita melakukannya, maka kita akan mampu mengetahui aktivitas-aktivitas yang terjadi di dalam jagat raya ini, yang lalu-lalang di atas muka bumi, keajaiban akal, dan mampu menembus esensi wujud hakiki sehingga kita akan merasakan ketenangan pikiran dan hati. Ketenangan karena pengetahuan kita tentang esensi wujud lahir dan batin, rahasia di balik wujud, kedudukan kita sebagai salah satu bagian dari alam semesta sehingga dapat berharmonisasi dengan segala benda dan realitas, keterikatan batin dengan Dzat yang menciptakan sebab dan akibat serta sarana menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat, penyerahan diri kepada-Nya, dan keimanan kita kepada realisasi kesenangan yang abadi, serta terjaga dari kehancuran dan kekecewaan.

Sarana dan prasana bagi manusia dalam mendalami ilmu pengetahuan sangat terbatas. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan yang dicapai dengan cara-cara seperti ini bersifat terbatas pula dan akan tetap seperti itu keadaannya. Saya kira, dengan kemampuan seperti ini, kita tidak akan pernah mampu mengupas lebih jauh masalah sistem dan keserasian elemen-elemen kehidupan yang ada di bumi. Apalagi masalah tujuan penciptaan kita sebagai manusia, hikmah keberadaan kita di atas muka bumi, dan inti relasi kita dengan alam semesta. Sebenarnya, manusia memikul tanggung jawab mereka untuk mengatur hidupnya sesuai dengan prinsip sistem kehidupan yang mendominasi seluruh kehidupan yang ada, kesadaran yang tinggi akan kedudukannya di antara sesama sebagaimana kesadarannya akan posisinya sebagai salah satu bagian dalam wujud. Selama dirinya tidak menyerahkan urusannya kepada petunjuk yang benar dan yang mengetahui betul kondisi perjalanannya hari ini dan hari esok, maka tidak mustahil dia akan sering terjerumus ke dalam kesalahan fatal dalam hidupnya saat naik, turun, melewati jalanan terjal tak dikenal dan terbelit-belit serta penuh marabahaya bahkan membuatnya tidak bisa sampai ke tempat yang dituju.

Kita yang lemah dalam memprediksi halang rintang di tengan perjalanan yang melemahkan semangat dan memutuskan jalan sehingga kita tidak selamat dari kesesatan, akan salah dalam membaca hakikat wujud, tidak memperhatikan realitas alam semesta dengan pandangan yang benar, dan tidak memahami esensi dunia dan isinya, selama tidak mengikuti perintah para rasul yang membawa kita dari dunia lain dan akan menyelamatkan kita di dunia ini lalu membawa kita menuju tempat lain yang lebih baik. Setelah itu, kita akan mempercayai segala sesuatu dan berbagai macam dinamika realitas sesuai dengan hukum alam. Berbagai macam keajaiban akan biasa terlihat dan kegelapan akan terlihat dengan jelas.

Hanya para utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pengikut-pengikutnya yang setia yang bisa membaca segala sesuatu yang konkret dan berbagai macam peristiwa dengan benar dan konsisten. Mereka mampu mengeksplorasi esensi-esensinya secara mendalam hingga menembus bentuk dan bayangan serta mencapai inti segala sesuatu sehingga mampu mengetahui arti materi yang sebenarnya. Di samping sisi lahir materi, mereka juga mendalami sisi terdalamnya. Dengan kata lain, mereka terfokus pada komposisi materi secara kontinu dengan tetap mencari inspirasi dari pancaran sinar-sinar aneka ragam refleksi yang memperlihatkan aktor utama setiap kejadian. Mereka berlalu di atas jalan petualangan dan pemikiran rohani sambil terus menjaga keterikatan dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga keilmuannya semakin berkembang pesat sehingga mengantarkannya menuju makrifat ketuhanan. Kalbunya selalu terikat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama harmoni ‘irfan yang telah mereka raih, lalu sampailah mereka di suatu level di mana semua keinginannya terpenuhi laiknya surga dengan kalbu yang selalu segar seakan-akan mereka berada di bawah air terjun cinta yang dalam dan perasaan batin setiap saat.

Mereka yang berbahagia memiliki pandangan khusus terhadap wujud dan esensinya. Pemahaman yang berasal dari penglihatan mata hati terhadap segala sesuatu, menilai segala sesuatu dan berbagai realitas dengan keyakinan adanya keterlibatan kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala secara mutlak sehingga dapat mencapai pengetahuan tentang hakikat-hakikatnya. Tatkala mereka menginterpretasikan wujud secara komprehensif mencakup wujud secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya, memperhatikan keseimbangan segala sesuatu dan relasi satu sama lain serta hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka tidak akan mengalami konflik internal. Oleh karena itu, hanya merekalah yang merasakan kebahagiaan tetap konsisten dalam pemikiran dan pandangan yang benar tentang hakikat manusia, alam semesta, dan ketuhanan sepanjang waktu. Hanya pemahaman mereka yang dapat menjelaskan tauhid dan seluruh aspeknya, keseimbangan dalam memahami Dzat, sifat, dan Asma-Nya, dan masalah-masalah vital seputar uluhiyyah dan rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. yang berasal dari sumber yang sama.

Jika seandainya Iradah-Nya tidak terefleksikan dengan pengutusan para rasul, maka saraf-saraf otak akan lemah meskipun disertai semangat dan gairah yang tinggi dalam menguak hakikat-hakikat ini secara pasti.

Sejak hari ini, saya tidak akan menolelir perubahan-perubahan yang terjadi dalam berbagai macam interpretasi sebagai akibat perluasan dan perbedaan sudut pandang serta perkembangan ilmiah di masa depan. Namun, kejadian seperti ini tidak akan terus menerus terjadi! Aduhai, seandainya sifat kemanusiaan mereka yang sedang lalai dan kebingungan, sedikit saja merasakan sinyal-sinyal ketuhanan dan melirik interpretasi para nabi terhadap hal-hal di luar jangkaun manusia seperti esensi wujud dan apa yang ada di balik wujud, dan melepaskan diri dari cekikan informasi-informasi yang menyesatkan, serta terbang di langit ilham nubuah yang luas, tentu manusia akan mampu memahami esensi wujud dengan pemahaman yang benar, peran dan tanggung jawabnya di alam jagat raya, rahasia di balik tirai segala sesuatu dan berbagai macam realitas, kaitan satu benda dengan benda-benda lainnya, dan keserasian penciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perintah-perintah-Nya. Selain itu, di satu sisi, mereka juga akan hidup dengan senantiasa terhubung dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, di sis lain, mereka akan terhindar dari pelanggaran aturan yang berlaku di alam raya ini secara total sehingga terhindar dari benturan dengan eksistensi. Akan tetapi, umat manusia, khususnya jiwa-jiwa durhaka pada masa kini, tidak berusaha mengaplikasikan arahan yang lurus ini. Bahkan mereka mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga mereka selalu berbenturan dengan segala sesuatu dan realitas. Mereka tidak akan terlepas dari siksa dan tidak akan pernah selamat. Bagaimana bisa, dengan keterbatasan potensi keilmuan yang mereka miliki, dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi dengan mudah?. Mereka hanya dapat mengunakan sedikit potensi yang dimiliki sehingga hasil yang didapatkannya pun hanya segelintir fakta tentang wujud dan itu pun secara terus menerus diklarifikasi. Apa yang mereka hasilkan hanya sebatas itu saja.

Manusia seyogianya memperhatikan kesempurnaan alam semesta yang sangat luas ini, dunia tempat mereka tinggal, aturan-aturan yang berlaku serta keserasian yang ada di dalamnya. seluas mungkin dengan semangat tinggi, manusia harus bisa melihat keterkaitan antara satu peristiwa dengan peristiwa lain tanpa harus mereka pesimis dengan keterbatasan ilmu dan ruang yang dimiliki. Hal ini harus dilakukan agar harapan mereka tidak pupus di tengah jalan, kandas sebelum mencapai finish. Namun apa yang terjadi? Mereka sering kali tidak bisa melihat dan memperhatikan. Kegagalan yang tidak diharapkan lah yang justru menghampiri mereka! Mereka akan terus gagal dan terus gagal sebelum mereka tahu bagaimana cara yang benar dalam menggapainya.

Dalam menempuh perjalanan panjangnya dari alam arwah, alam dunia, sampai ke alam barzakh, manusia membutuhkan pengetahuan lebih, bahkan melebihi batas ruang dan waktu yang mereka singgahi. Sehingga mereka dapat hidup dengan ketenangan, rasa percaya diri, tanpa bumbu pahit kesia-siaan dan kegelisahan. Namun lagi-lagi faktanya berbalik. Lama sudah manusia menapaki jalannya, mereka masih saja tidak tahu menahu apa yang ditemuinya. Mereka anggap diri mereka telah cakap menguasai ilmu pengetahuan. Mereka perlu bekerja keras menyusun strategi langkah kaki mereka. Karena jalan masih sangat panjang, tempat yang harus disinggahi begitu banyak, hawa perjalanan begitu keras menyiksa, gunung-gunung yang menghadang di depan begitu tinggi, jurang yang menjebak begitu dalam. Apakah mereka butuh akan penjelasan lebih lanjut mengenai faktor urgensitas eksistensi para nabi dalam melewati lika-liku perjalanan mereka yang begitu berat dan keras menuju rumah yang sebenarnya??

Para nabi dengan gigih membawa pesan kenabian yang berisi petunjuk beriring berjalannya waktu. Mereka menyebarkan cahaya ke setiap penjuru dunia sehingga terbukalah penghalang-penghalang yang menutupi penglihatan para pengelana dan menerangi umatnya yang sedang hanyut dalam hakikat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan alam semesta. Mereka selamat dari kesedihan, kegelisahan, dan kebingungan mencari tempat kembali.

Misi para nabi, sejak nabi pertama diutus adalah berjalan diatas satu pokok ajaran utama, menyerukan tauhid, kebangkitan, alam mahsyar, nubuah, pengabdian diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan keadilan. Selain itu, misi mereka adalah memberikan arahan dan peringatan kepada umatnya dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi sesuai dengan tuntutan zaman dan kematangan humanisme, serta memalingkan umatnya dari tujuan-tujuan hidup yang rendah. Mereka semua satu dalam membawakan ajaran pokoknya. Meskipun beragam aplikasinya dalam masalah non-pokok.

Al-Qur’an merupakan panggilan terakhir dan risalah terakhir bagi umat manusia yang telah mencapai masa puncak kedewasaannya. Risalah ketuhanan yang terakhir ini membenarkan dan menegaskan asas-asas agama-agama samawi terdahulu, menjawab tuntutan zaman, dan menjadi pamungkas kitab-kitab suci samawi. manusia mesti berada di atas jalan yang tersinari cahaya risalah terakhir ini, mengoptimalkan potensi untuk terus tumbuh berkembang dengan mengikuti aturan-aturannya, dan merealisasikan usaha kerasnya untuk bisa sampai kepada hakikat yang absolut di bawah bimbingannya.

Islam dengan Nabi Muhammad dan Al-Qur’an sebagai pedomannya telah hadir di hadapan umatnya. Setiap telinga mendengarkan risalahnya, obor-obor terang yang membawa cahaya Islam di perjalanan dunia. Islam menjadi penengah dan pemersatu, menjadi referensi segala sesuatu menuju kemurnian tauhid.

Pin It
  • Dibuat oleh
Hak Cipta © 2020 Fethullah Gülen Situs Web. Seluruh isi materi yang ada dalam website ini sepenuhnya dilindungi undang-undang.
fgulen.com adalah website resmi Fethullah Gülen Hojaefendi.